• MENCARI JURIA

    Pada tanggal 16-19 Juli 2013, Kami berkunjung ke Pulau Flores. Flores termasuk kepulauan sunda kecil bersama Bali dan NTB, Flores dalam bahasa Portugis berarti “Bunga”. Mungkin sebagian orang mengenal Flores karena keberadaan satwa langka yang di lindungi di dunia yaitu biawak raksasa dan juga taman nasional danau kelimutu. Namun disisi lain Flores juga mempunyai kekayaan alam yang lain yaitu penghasil kopi.

    Rute perjalanan yang kami lalui untuk sampai ke tempat tujuan adalah melalui Bali-Labuan Bajo-Ruteng-Colol. Adapun lokasi perkebunan yang kami datangi adalah desa Biting, Colol, Manggarai, Flores dengan ketinggian mencapai 1200-1400 mdpl. Di perkebunan kopi tersebut terdapat 4 varietas kopi Arabika yang terkenal antara lain:

    1. Juria
    2. Unggul (lini s795)
    3. Red Caturra
    4. Yellow Caturra

    Juria adalah salah satu tanaman yang dianggap kramat oleh warga, dengan pohon berusia lebih dari 50 tahun dengan tinggi tanaman mencapai 4-5 meter. Para petani didesa ini tidak berani mengganti tanaman tersebut dengan tanaman baru. Mereka menganggap Juria sudah sangat menyatu dengan tanah desa mereka. Pak Carolus ketua kelompok tani di desa colol mengatakan bahwa dari jaman orang tua mereka telah mencoba membibitkan ulang dan menanam Juria dilokasi lain akan tetapi tidak pernah berhasil tumbuh dengan baik, kalaupun tumbuh tidak bisa menghasilkan buah yang banyak seperti tanaman tua mereka.

    Sejarah juria bermula dari seorang politikus asli Flores bernama Rudolf Kawoer yang membawa bibit juria di pada sekitar tahun 1950. Rudolf adalah orang flores pertama yang bisa bersekolah hingga ke Makasar.  Dalam sisa hidup nya semenjak pulang bersekolah Rudolf selalu mengkampanyekan kepada warga flores untuk menanam bibit yang dia bawa tersebut.

    Menanam kopi sudah lama dilakukan oleh warga Colol, bahkan pada jaman penjajahan Belanda ada salah satu warga yang sampai diberikan penghargaan berupa bendera Belanda dan belati, dan kedua barang tersebut dianggap pusaka oleh warga dan disimpan baik-baik hingga sekarang. Sayang nya pada trip ini kami tidak bisa melihat langsung kedua barang pusaka tersebut karena keterbatan waktu, dan mereka memiliki ritual diperlukan adanya upacara adat terlebih dahulu sebelum mengeluarkan atau memperlihatkan benda pusaka tersebut.

    Suatu kehormatan bagi kami, pada saat kunjungan kami ke desa colol disambut sangat baik oleh warga setempat. Kami disambut dengan upacara adat termasuk tradisi memotong ayam jantan pun dilakukan.

    Kami juga sangat bangga bisa melihat perkebunan Juria juga mendapat kesempatan untuk mendapatkan biji kopi Juria, karena sudah sangat terkenal bahwa masyarakat desa ini tidak pernah mau memberikan apalagi menjual Juria, karena mereka menikmatinya sebagai konsumsi mereka sendiri.

    Karakter Juria : Chocolate, Malt, Sweet mellow, Lemon dan Clean finish. (Mira Yudhawati)