• COFFEE TRIP BAJAWA DAN MANGGARAI

    Adalah sebuah pengalaman pertama yang sangat berharga buat saya secara pribadi dimana dapat ikut serta dalam perjalanan ketitik kopi didataran flores,dimana tempat tempat ini juga merupakan pusat kopi Arabica ternama yang dimiliki Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil kopi dunia.

    Ditunjuk Specialty Coffee Asosiation Of Indonesia ( SCAI ) sebagai salah satu narasumber bersama seorang rekan lainnya dalam rangka mengadakan program pelatihan mencicipi cita rasa kopi ( Cupping Test) bagi para petani di dataran Flores yaitu : Bajawa & Manggarai pada tanggal 8 – 13 september 2014.

    Bajawa sendiri merupakan daerah kopi didataran flores yang sudah terkenal akan hasil kopi biji arabicanya yang bahkan sudah mendunia.

    Kabupaten ngada sendiri dengan Bajawa sebagai ibu kotanya merupakan salah satu daerah penghasil kopi utama di NTT,dengan luas 6.147 ha dimana 5.351 ha merupakan daerah yang ditanami Kopi Arabica sedangkan sisanya adalah Robusta.

    Kawasan penanaman kopi Arabica mencakupi Golewa dan kecamatan Bajawa yang mana dikelola oleh beberapa kelompok masyarakat yang didukung penuh oleh Dinas perkebunannya.

    Seminar hari pertama dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Ngada dengan materi proses pasca panen dari biji kopi Arabika dan Mata Rantai Industri kopi.

    Dalam sesi ini petani diajak mengenal tentang perjalanan kopi itu sendiri dari mulai dipanen dan sampai menjadi secangkir kopi yang dinikmati oleh penikmatnya

    Sesi ini begitu menarik manakala semua petani bisa kagum,heran,dan saling menggerutu satu sama lainnya ketika mendengar kalau kopi ternyata dapat dihargai begitu tinggi manakala sudah menjadi suatu minuman dalam cangkir atau gelas sajinya setelah diolah oleh bagian terakhir dari mata rantai yaitu : Barista ( café / kedai kopi )

    ( selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke lokasi pelatihan berikutnya yaitu : Manggarai )

    Meninggalkan Bajawa dengan begitu banyak kenangan bersama para petani selama pelatihan dan beranjak ke Manggarai dimana merupakan salah satu daerah penghasil kopi yang besar juga didaratan flores.

    Perjalanan ditempuh melewati pegunugan dan perkebunan yang didominasi dengan pemandanangan bukit dan pepohonana kopi dikiri dan kanan jalan

    Menempuh 3 jam perjalanan dengan menggunakan travel yang difasilitasi petani kopi bajawa, saya pun menikmati bersihnya udara segar pegunungan yang tidak pernah dirasakan dijakarta dan kota besar pada umumnya.

    Manggarai dan bajawa merupakan dua kabupaten didaratan flores yang berbeda dalam  segi bahasa dan adat istiadanya,letak perbatasan kedua kabupaten ini ditandai dengan sebuah jembatan panjang yang mengubungi Aimere ( Bajawa) dan Wae lengga (manggarai timur) jembatan ini disebut jembatan wae mokel,tepatnya diwae lengga manggarai timur

    perjalanan menuju manggarai adalah perjalanan dramatis buat saya secara pribadi karena kebetulan ini adalah kampung halaman saya sendiri. Tanah leluhur dimana saya pernah dilahirkan dan mulai tumbuh dan mengenal segalanya.

    Suatu kesempatan baik buat saya untuk datang dan berbagi dengan para petani sambil berlatih untuk mengamalkan sedikit dari yang pernah saya pelajari dari industri  yang saya geluti beberapa tahun ini. Perjalanan sayapun akhirnya sampai dikota Ruteng ibu kota kabupaten manggarai,tempat dimana segala cerita dan hidup saya dimulai.

    Diterima oleh pengurus Asnikom ( Asosiasi petani Kopi Manggarai),langsung menuju kelokasi dimana acara pelatihan akan dilaksanakan. Suatu kawasan pegunungan jauh daerah keramaian dipilih sebagai tempat pelatihan. Suasana dingin yang mulai datang menghampiri saya dan hari pun beranjak gelap sembari menyiapkan segala sesuatu guna keperluan keesokan harinya.

    Ditempat ini terdapat beberapa kamar yang memang disediakan untuk peserta pelatihan yang datangnya dari daerah yang jauh agar bisa bermalam selama masa pelatihan. Hari pertama pelatihanpun segera dimulai dengan kedatangan beberapa rombongan petani dari daerah sekitarnya.

    Materi selanjutnya Cupping Test, petani diajarkan untuk bisa mengenal karakter yang ada dalam kopi baik dari kopi yang dihasilkannya sendiri maupun kopi yang berasal dari daerah lain.

    Materi dan perlengkapan pun disiapkan dan mulai satu demi satu para petani belajar untuk memisahkan cacat sesuai kategori dan jenis cacatnya sesuai buku pedoman yang dibuat oleh  SCAA (Specialty Coffee Association of America) sebagai salah satu bekal pengetahuan dalam mulai mengerjakan produk pasca panennya dengan lebih baik sehingga mampu meningkatkan kualitas dan konsistensi kopi tersebut.

    Tiga hari sudah lamanya para petani kopi bajawa ini bergelut dengan materi dan prakter dalam sesi acara pelatihan dan akhirnya diakhir acara disiapkan sebuah game yang menguji ketangkasan dan memori dalam cupping, permainan ringan dikemas dalam sesi terakhir pelatihan yaitu : Triangulation, dimana dalam permainan ini para petani kopi bajawa diminta untuk memilih mana kopi yang berbeda dari 3 jenis kopi yang disiapkan diatas meja cupping.

    Sebelum pembagian sertifikat dari SCAI/ AKSI, upacara khas Ngada/Bajawa yaitu : penyematan slempang khas adat untuk narasumber.

    Setelah dibuka secara resmi oleh pengurus Asnikom maka acarapun segera dimulai dengan materi yang meyerupai kegiatan sebelumnya dibajawa. Bedanya, di Manggarai mayoritas petani yang datang adalah dari kalangan yang beda usia dari petani dibajawa,dan ini membuat pelatihan menjadi menarik dan seru.

    Suatu kesempatan baik juga bisa berdiskusi dengan Bapak John Sentis selaku Kepala Dinas perkebunan Manggarai timur yang ikut juga dalam sesi pelatihan ini di Manggaarai. Banyak mendapat masukan seputar keadaan kopi dan petani manggarai khususnya manggarai timur dari Beliau.

    Selama pelatihan disini semua sesi dilalui dengan penuh tawa dan canda karena bagi beberapa petani ini adalah kesempatan kedua mengikuti pelatihan setelah SCAI juga sudah melakukan hal yang sama di tahun 2013.

    Dinginnya udara membuat sesi cupping menjadi seru karena rasa ingin menikmati kopi semakin menggebu. Sesi demi sesi dan sharing tentang informasi serta bebagi cerita dengan petani larut dalam siang menjelang sore hari dan akhirnya selesai semuanya.

    Untuk mengisi waktu sore dan mensiasati dinginnya udara sore maka semua berkumpul dan kembali berbagi cerita dan pengalaman dalam kopi dan pengelolaannya sesuai versi masing masing petani.

    Semuanyapun beristirahat untuk menyiapkan sesi keesokan harinya yang tidak kalah serunya. Selanjutnya suatu sesi tentang pengenalan aroma dalam kopi dimana para petani dikenalkan dengan aroma kit yang disebut Le Nez Du Café, yang mana ini merupakan macam macam aroma yang sering ditemukan dalam kopi baik yang merupakan aroma alami tanaman kopi ataupun aroma yang timbul karena proses pengeringan penyimpanan maupun proses dalam roasting.

    Dalam sesi ini para petani begitu antusias dan penasaran ketika mengetahui kalau ternyata tanaman yang mereka tanam selama ini mampu menghasilkan begitu banyak unsur aroma yang menarik.

    Dikota ruteng ini pun saya menyempatkan diri untuk melihat beberapa perkebunan kopi milik rakyat yang kebetulan beberapa pohom diantaranya masih tampak sisa sisa buah dari hasil panen para petani pemilik kebun.

    Saya menemukan ada 2 jenis kopi Arabika yang ditanam berdekatan antara kebun kopi yang satu dan yang lainnya. Adalah jenis Red Columbia dan yellow Columbia yang sangat terkenal itu yang saya dapati.

    Begitu senang rasanya dapat melihat perkebunan kopi yang lebat dan sarat akan buahnya membuat saya memberanikan diri masuk kekebun kopi tersebut dan memegang tangkai demi tangkai dan segera mengabadikan moment tersebut.

    Pelaksanaan pelatihan bagi para petani di Manggarai pada dasarnya sama dengan yang dilakukan di Bajawa, namun dihari terakhir sesi semuanya harus dipercepat karena alasan transportasi masih sangat terbatas sekali.

    Pelatihan seperti ini sangat berguna bagi mereka dalam meningkatkan kualitas dari kopi yang dihasilkan saat ini dan kedepannya. Acara pelatihan resmi ditutup oleh wakil yang ditunjuk Asnikom. (Agustassi)